Info worlcup 2022 Berita Terkini situs 100% cepmek|sbobet|on88id

Slide

Landscape

Penggulingan Presiden Jokowi?

Penggulingan Presiden Jokowi?
Presiden Joko Widodo saat menghadiri Asia World Expo Ground, Hongkong, Minggu (30/4/2017). Presiden menggelar kunjungan kerja di Hongkong pada 30 April hingga 1 Mei dalam rangka meningkatkan kerja sama antar kedua negara.

www.777win.com

Situs Judi Online Terpercaya - "Benarkah ada upaya makar terhadap Presiden Joko Widodo?" "Ataukah Allan Nairn hanya mengumpulkan fakta dan kemudian menulis bebas dengan imajinasi dirinya?"

Menurut anda, kira-kira apa jawabannya?

Sabar, sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya mau ceritakan dulu bagaimana pertanyaan itu muncul dan akhirnya saya mendapat wawancara eksklusif Allan Nairn.

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan saya sebelum saya memutuskan untuk mengangkat wawancara Allan Nairn.

Berangkat dari keraguan itu, saya kemudian memutuskan bersama tim untuk mewawancarai Allan Nairn.

Saat di hubungi tim, Allan Nairn sedang berada di Amerika Serikat dan mengatakan akan berangkat ke Indonesia untuk sebuah acara.

Akhirnya kami pun sepakat untuk mengatur wawancara dengannya 6 hari pasca ia menyatakan bersedia di wawancara oleh saya.

http://www.777win.com/#/

Tempat wawancara pun kemudian menjadi isu. Agar wawancara eksklusif ini menjadi yang pertama pasca-gaduh isu penggulingan Presiden Joko Widodo di Indonesia. Saya memilih tempat di sebuah perpustakaan di kawasan Jakarta Pusat.

Di sana saya pun akhirnya melakukan wawancara dengan Allan Nairn, wartawan yang sudah hampir 40 tahun berkarier sebagai jurnalis investigatif alias wartawan yang gemar melakukan peliputan terkait penyelidikan.

Allan Nairn banyak memilih topik seputar pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh karenanya tidak aneh, kalau ia kerap bergesekan dengan pihak militer di medan perang.

Salah satu karya Allan Nairn adalah tentang insiden di makan Santa Cruz, Dili, Timor-Timor tahun 1991. Di makan tersebut, tewas lebih dari 200 orang yang merupakan warga Timor Timur pro kemerdekaan, ratusan lainnya hilang.

Sejak saat itu Allan Nairn kerap menulis tentang perang di Timor Timur. Tahun 1999 ia pernah di tahan tentara Indonesia di Timor Leste yang saat itu bernama Timor Lorosae. Saat para jurnalis di evakuasi setelah referendum, Allan Nairn malah memilih tinggal di daerah yang sedang bergejolak itu.

Tak kapok, Allan Nairn kembali lagi ke Indonesia tahun 2009 mengkritis soal operasi militer di Aceh. Terakhir, sebelum tahun 2017 ini, ia datang tahun 2014 menjelang Pemilihan Presiden untuk kembali mengingatkan soal tidak tuntasnya pelanggaran HAM di peralihan masa reformasi tahun 1997-1998.

Sekarang  Allan Nairn datang lagi. Ia membawa isu kontroversial : Makar Terhadap Presiden Joko Widodo.

Dari semua kiprahnya itu, setidaknya di mata saya, ia datang dan membuat laporan di semua titik kritis di Indonesia. Seolah-olah pas momennya.

"Apakah ini wawancara pertama soal isu makar ini?" tanya saya. "Tentu saja", jawab dia. Ia menerangkan, dirinya datang ke Indonesia bukan karena permintaan saya untuk mewawancarainya, tapi karena kebetulan ada sebuah acara yang harus ia hadiri di Indonesia.

"Kenapa anda mengangkat topik soal makar terhadap Presiden Joko Widodo?" tanya saya lagi. Jawab Allan Nairn, karena ada banyak pelanggaran HAM yang belum di tindaklanjuti di Indonesia.

"Apa kaitannya dengan makar?" kejar saya. "Tak di tuntaskan karena pemerintahan Joko Widodo takut akan di gulingkan", jawab dia.

"Anda sudah menyimpulkan, siapa narasumber anda? saya mengejarnya. "Puluhan Jenderal, di antaranya sepuluh yang masih aktif!" jawab Allan Nairn.

Jurnalis Allan Nairn.

Hmm....... puluhan Jenderal, btain saya. Rasa ingin tahu saya semakin tergugah.

Melihat sepak terjangnya selama ini yang selalu berdiri berseberangan dengan tentara, bagaimana mungkin Allan Nairn bisa mendapat akses sedemikian luas di kalangan tentara?

Allan Nairn terlihat terkejut saat saya mengajukan pertanyaan ini. Ia tidak memberi jawaban dengan jelas.

"Kompleks sekali alasan para Jenderal mau cerita kepada saya. Faktanya, saya mendapatkan berbagai sumber itu," jawab dia singkat.

Apapun yang di katakan Allan Nairn, ia mengklaim, informasi yang ia dapat 100% benar dan valid, meskipun ada pertanyaan saya yang tidak bisa di jawabnya dengan lugas.

Di sisi lain ada catatan yang saya sayangkan. Jika memang datanya benar dan valid serta dengan mudah ia mendapatkan akses kepada sejumlah Jenderal, mengapa ia tidak memberikan kesempatan kepada sejumlah nama yang di rugikan untuk memberikan klarifikasi?

Kenapa Allan Nairn tidak melakukan cover-both-sides seperti yang seharusnya wrtawan di Indonesia lakukan?

Saya teringat pada kewarganegaraan Allan Nairn yang berasal dari Amerika Serikat. Di sana di kenal Amandemen Pertama alias UUD 45-nya Amerika Serikat yang berbunyi :

"Congress shall make no law respecting an establishment of religion or prohibiting the free exercise there of or abridging the freedom of speech or of the press or the right of the people peaceably to assemble and to petition the goverment for a redress of grievances."

Pada intinya wartawan atau siapapun bisa sebebas-bebasnya berbicara, menulis dan berekspresi. Mereka tidak akan di kenakan jeratan Undang Undang apapun karenanya dan bisa mengajukan petisi jika ada yang mempermasalahkan secara hukum.

Jadi artike Allan Nairn dan kebanyakan wartawan di Amerika Serikat tidak menjadikan cover-both-sides menjadi hal yang utama.

Dan ketika hal tersebut di terjemahkan di Indonesia yang punya yurisdiksi yang berbeda, maka, pasti ada masalah di kemudian hari. Inilah yang di alami oleh Tirto.id, karena menerjemahkan langsung tanpa melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber yang di sebut.

Lalu apa jawaban pertanyaan di awal tulisan ini?

Saya pikir, bila anda sudah membaca keseluruhan tulisan saya ini, anda dengan lugas bisa menjawabnya.


Dapatkan Bonus 100% member baru https://goo.gl/iSOhLY
http://www.777win.com/#/

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget