Info Berita Terkini

Slide

Landscape

Rumor Keterlibatan Jenderal Dalam Penyiraman Air Keras, Kapolri Minta Noven Baswedan Beri Bukti

Rumor Keterlibatan Jenderal Dalam Penyiraman Air Keras, Kapolri Minta Novel Baswedan Beri Bukti
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian.

www.777win.com

Situs Judi Online Terpercaya - Kontroversi mengenai Novel Baswedan, penyidik senior Komisi Pembberantasan Korupsi (KPK) yang jadi korban penyerangan air keras, terus bergulir.

Kali ini Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta Novel Baswedan menyebut nama Jenderal yang diduga terlibat dalam kasus penyerangan tersebut.

"Kalau ada oknum Jenderal, Jenderal yang mana? Buktinya apa? Itu yang penting," kata Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Jenderal Tito Karnavian menyayangkan sikap Novel Baswedan yang menguangkapkan pernyataan itu kepada media, bukan kepada penyidik Polri.

Pasalnya, menurut Jenderal Tito Karnavian, pernyataan Novel Baswedan di media menimbulkan kesan ada keterlibatan institusi Polri dalam aksi kejahatan terhadap dirinya.

"Jangan sampai keluar pernyataan tapi kemudian tidak ada buktinya. Tentu saya menyayangkan berakibat negatif terhadap institusi Polri,"  kata Jenderal Tito Karnavian.

Situs online majalah Time melakukan wawancara khusus dengan Novel Baswedan pada 10 Juni lalu. Wawancara dipublikasikan pada 12 Juni, berjudul 'I Don't Want To Be Sad' : Indonesia Top Graft Buster Talks To Time From His Hospital Bed (Saya Tidak Ingin Bersedih : Sang Pembongkar Korupsi Bicara kepada Time dari Tempat Tidurnya di Rumah Sakit).

Dalam berita itu disebutkan Novel Baswedan pernah mendapat informasi dari seseorang mengenai keterlibatan seorang Jenderal polisi yang punya jabatan tinggi di Polri, dalam kasus penyerangan terhadap dirinya.

"Saya mendapat informasi, seorang Jenderal polisi punya jabatan tinggi terlibat. Awalnya saya bilang informasi itu salah. Namun, setelah dua bulan penyelidikan tidak menghasilkan apa-apa, saya mengatakan (pada orang yang menyampaikan dugaan itu), sepertinya informasi itu benar," kata Novel Baswedan.

Kapolri mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan KPK mengenai perkembangan penanganan penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Serangan dilakukan dua orang tidak dikenal pada 11 April lalu ketika Novel Baswedan baru saja melaksanakan ibadah Salah Subuh di sebuah masjid tidak jauh dari rumahnya, kawasan Jl Deposito, Kelapa Gading, Jakarta.

"Saya rencananya Senin (19/6/2017) mau ke KPK," kata Jenderal Tito Karnavian. Selain hendak membicarakan perkembangan penyidikan kasus tersebut, Jenderal Tito Karnavian juga akan membahas pernyataan Novel Baswedan di Time dengan para petinggi KPK.

"Kalau ada buktinya, kami terbuka untuk itu, kami akan proses," ujarnya. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan sejauh ini penyidik sulit untuk menemui Novel Baswedan yang masih dirawat di Singapura.

"Oleh dokternya tidak diizinkan. Harus ada dokter dan doternya sedang cuti. Penyidik hanya diberikan akses lima menit," katanya. Irjen Pol Setyo Wasisto meminta Novel Baswedan mengungkapkan keterangannya dalam berita acara pemeriksaan sehingga bernilai hukum.

"Kalau dia punya informasi, silahkan dituangkan dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Kalau dia menyebut nama, sebaiknya hati-hati karena kalau tidak terbukti, ada implikasi hukum," katanya.

Ia menegaskan penyidik terus berupaya mencari pelaku kasus tersebut. "Kami terus melacak pelakunya. Jangan dikatakan ini berhenti," katanya. Sejumlah metode investigasi telah dilakukan para penyidik untuk membuat kasus ini menjadi terang.

"Ada dua cara metode deduktif dan induktif dari dalam dan dari luar, itu kami lakukan terus," katanya. Polisi sempat memriksa empat orang yang dicurigai terlibat dalam kasus tersebut, namun kemudian dilepas karena tidak cukup bukti dan mereka mempunyai alibi kuat.

Penyidik mempercayai alibi mereka karena dikuatkan sejumlah bukti termasuk tiket pesawat terbang. Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu meminta Mabel Polri menindaklanjuti pernyataan Novel Baswedan di Time.

"Mabes Polri bisa kirimkan kembali tim penyelidik Mabes Polri ke Singapura untuk mendalami keterangan Novel Baswedan dan memanggil pihak pemberi informasi kepada Novel Baswedan," kata Masinton Pasaribu.

Menurut Masinton Pasaribu, langkah tersebut perluk dilakukan segera agar tudingan tersebut tidak berkembang menjadi opini buruk terhadap institusi Polri. Sebaliknya jika pernyataan Novel Baswedan tidak didukung petunjuk dan bukti kuat, Polri bisa menempuh upaya hukum.

Politisi PDI Perjuangan itu menyayangkan tudingan Novel Baswedan di media internasional. Ia mempertanyakan tindakan Novel Baswedan yang tidak terlebih dahulu menyampaikan informasi tersebut kepada pimpinan KPK atau penyidik kepolisian.

"Apalagi Novel Baswedan kan orang yang mengerti hukum, seharusnya tudingannya disampaikan kepada penegak hukum," kata Masinton Pasaribu. Menurutnya pernyataan Novel Baswedan menimbulkan berbagai macam spekulasi.

Spekulasi dimaksud di antaranya tudingan Novel Baswedan tersebut bertujuan mencari simpati publik. Ada pula, kata Masinton Pasaribu, yang beranggapan tudingan itu untuk merusak reputasi Polri di mata internasional.

Masinton Pasaribu mengungkapkan pernyataan kontroversial itu bukan yang pertama disampaikan oleh Novel Baswedan. Sebelumnya pernyataan serampangan Novel Baswedan disampaikannya dalam Persidangan Tipikor yang munuduh beberapa nama-nama anggota Komisi III DPR menekan Miryam S Haryani sehingga mencabut keterangan di BAP kasus e-KTP.


Dapatkan Bonus 100% member baru https://goo.gl/iSOhLY
http://www.777win.com/#/

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget