Info Berita Terkini

Slide

Landscape

Untunglah Kasino Warkop Sudah Dipanggil Tuhan Dan Tidak Sempat Jadi Pendukung Jokowi

Untunglah Kasino Warkop Sudah Dipanggil Tuhan Dan Tidak Sempat Jadi Pendukung Jokowi
Wahjoe Sardono (Dono) dan Kasino Hadiwibowo.

www.777win.com

Situs Judi Online Terpercaya - Seorang kawan, penulis dan sutradara, menulis di akun Facebooknya. Perihal Tukul Arwana yang disebutnya sedang mengkeret. Tukul takut dilaporkan ke polisi lantaran kebiasaannya meletupkan kata 'ndeso' saat masih menjadi pembawa acara program bincang-bincang Empat Mata / Bukan Empat Mata.

Tentu saja tulisan ini imajiner belaka. Tukul tidak benar-benar mengkeret. Namun apa yang ditulisnya tetap membuat saya tergelak. Sekaligus tertohok, lantaran sekonyong-konyong menyadari betapa orang-orang di negeri ini sudah tidak lagi 'selow'. Tingkat kesantaian telah merosot jauh sekali.

Makin ke sini, orang-orang di negeri ini makin sensitif dan reaktif. Makin mudah merasa tersinggung dan marah. Sedikit-sedikit main ancam. Sedikit-sedikit mengajak perang, mengajak revolusi. Sedikit-sedikit main lapor, lalu mendesak polisi untuk memenjarakan orang atau sekelompok orang yang dirasa menyinggung dan membikin marah.

Yang seperti ini, paling anyar, menimpa Kaesang Pangarep. Putra bungsu Presiden Joko Widodo ini dilaporkan oleh seorang bernama Muhammad Hidayat S atas tuduhan melakukan tindakan pidana ujaran kebencian lewat vlog berjudul #BapakMintaProyek. Dalam vlog ini, Kaesang Pangarep mengumbar kata 'ndeso' yang menurut Muhammad Hidayat S merupakan semacam dorongan atau ajakan dari Kaesang Pangarep untuk membenci ulama dan kelompok masyarakat tertentu.

Vlog Kaesang Pangarep.

Saya tidak hendak membahas lebih jauh tentang kata 'ndeso' dan tuduhan Muhammad Hidayat S yang belakangan diketahui ternyata lebih dulu berstatus tersangka atas kasus ujaran kebencian juga. Biarlah ini ajdi urusan polisi, yang apapun keputusannya, entah melanjutkan atau tidak melanjutkan, seyogianya sama-sama dihormati.

Persoalan makin merosotnya tingkat kesantaian orang-orang Indonesia lebih menarik untuk dicermati. Ini fakta yang setidaknya bagi saya bikin gamang. Di satu sisi, barangkali dimaksudkan untuk bersopan-sopan. Santun dalam bersikap dan berujar. Di lain sisi justru menjadi ancaman. Sebangsa pisau bermata dua.

Tengoklah ke televisi dan Anda akan dengan sangat mudah menemukan parade sensor yang semakin lama juga semakin menyedihkan. Mulai dari sensor gambar sampai sensor bunyi. Paha, belahan dada, rokok, sampai senjata, dapat dipastikan tampil dalam kondisi buram. Atau ditutp dengan piksel seperti yang digunakan para sineas film porno Jepang untuk menutup kelamin.

Adegan yang mengetengahkan darah lebih aduhai lagi. Jika tidak diburamkan atau ditutup piksel, layar televisi Anda yang full colour bisa tiba-tiba berubah monokrom (hitam putih).

Sensor bunyi bagaimana? Sama saja. Dialog yang dianggap tidak sesuai dengan asas-asas kesopanan dan kesantunan langsung dipotong. Kadangkala, pemotongan ini dilakukan tanpa sedikit pun memperhatikan unsur sinematografi. Penyensor tidak peduli apakah pemotongan yang dilakukan mengurangi nilai film itu atau tidak.


Dapatkan Bonus 120% member baru https://goo.gl/iSOhLY
http://www.777win.com/#/

Posting Komentar

[blogger]

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget